Rabu, 20 Januari 2010

Real Stories - Cinta Sampai Mati

Namanya Keysha, dia kakak pembinaku saat mengikuti Masa Orientasi Siswa atau MOS saat aku baru masuk Sekolah Menengah Pertama 5 tahun yang lalu. Awal aku melihatnya, dia cukup menarik perhatianku. Dia manis, dia sopan, dia lembut, dia ramah, dia benar-benar perfect di mataku. Tutur katanya bagaikan embun yang membasahi pikiranku. Mungkin masih terlalu kecil untukku, tapi aku tau dan aku kenal ini namanya CINTA.

Dua bulan setelah aku resmi menjadi siswa SMP Mataram, aku tau bahwa Keysha, kakak kelasku yang duduk satu kelas diatasku, ternyata juga suka padaku. Maka dengan keyakinan yang teguh aku memberanikan diri untuk menyatakan cinta. Dan aku sangat senang ternyata ia menerimaku, dan tepat saat itu kita jadian.

Aku Kafka, saat itu tinggal di sebuah kos-kosan kecil di mataram. Karna keluargaku semua tinggal di Maluk. Saat lulus SD, aku memberanikan diri tinggal sendiri di kota ini, walaupun ada saudaraku yang juga tinggal disini, tapi aku lebih memilih nge-kos dan hidup mandiri.

Sejak aku dan Keysha jadian, ia jadi sering datang ke kos-kosanku. Menyuci bajuku lalu menyetrikanya, membawakanku makanan dan mengurusi segala keperluanku. Aku rasa, aku tidak salah memilih. Dia sangat baik, ia seperti manusia tak berdosa di mataku, maka dari itu aku tidak berani menyentuhnya sedikitpun. Aku tidak mau melecehkan kehormatan gadis yang sangat aku sayangi. Aku mencintainya di umurku yang masih sangat kecil, 13 tahun.

Seiring berjalannya waktu, hubungan kami makin serius. Keysha sudah mengenalkanku kepada orangtuanya sebagai pacar, dan aku pun sudah memberitahu orangtuaku bahwa aku sekarang sudah memiliki pacar dan aku sempat mengirimi sebingkai foto Keysha pada mereka. Orangtuaku dan Keysha tidak melarang hubungan kami sedikitpun, jadi aku bebas datang kerumah Keysha tanpa sembunyi-sembunyi. Dan tak jarang aku di suruh menginap di rumah Keysha pada akhir pekan.

Satu tahun sudah aku dan Keysha menjalani hubungan ini, aku sudah naik kelas dua dan Keysha kelas tiga. Awal semester, aku mulai kehilangan Keysha. Ia tiba-tiba menghilang entah kemana. Aku telfon handphone-nya selalu tidak aktif, kalaupun aktif pasti tidak di angkat. Aku datangi rumahnya, selalu kosong tak berpenghuni. Setelah sekitar dua minggu aku kuwalahan mencari keberadaan Keysha, ternyata Ibu Keysha menelfonku dan bilang bahwa Keysha sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Aku kaget setengah mati, tak pikir panjang aku langsung pergi kerumah sakit itu.

Berbulan-bulan aku menungguinya di rumah sakit, aku tak pernah pulang ke kos-kosanku. Aku ingin menemaninya, aku tidak ingin membiarkannya sendiri. Berkali-kali aku bertanya pada dokter yang menangani tentang apa penyakit Keysha yang sebenarnya. Tapi dokter itu tak mau menjawab, ia hanya bilang Keysha sakit biasa dan sebentar lagi akan sembuh. Awalnya aku percaya, tapi lama-lama aku semakin curiga. Maka aku kembali menanyai dokter itu dengan emosi, dan betapa terkejutnya aku saat dokter itu menjawab bahwa Keysha menderita penyakit Kanker paru-paru stadium II dan kanker otak stadium II!!!

Sejak aku tau penyakit Keysha yang sebenarnya, aku selalu menangis dihadapannya. Aku tidak kuat melihat Keysha-ku yang lembut dan selalu riang harus menahan penyakit seganas itu. Tapi aku selalu optimis bahwa Keysha akan sembuh dan kembali membuatkan makanan untukku serta menemani hari-hariku dengan tawa.

Tapi Tuhan berkehendak lain, Keysha meninggal dunia saat hubungan kami sudah berjalan satu tahun tiga bulan. Aku marah, aku sedih, aku kacau. Aku seperti kehilangan separuh hidupku. Aku hancur. Aku berubah menjadi sosok Kafka yang brutal. Pulang malam, minum, tawuran, ngerokok, dan hobi gonta-ganti pacar. Sekolahku pun tak karuan, nilauku jatuh sejatuh-jatuhnya, bahkan aku sempat diancam tidak lulus. Aku benar-benar kehilangan arah. Kepergian Keysha membuat semangatku untuk melanjutkan hidup hilang.

Tapi saat memasuki SMA, aku mulai sadar bahwa yang aku lakukan selama ini salah. Aku sadar Keysha yang melihatku dari alam sana juga tidak akan suka melihatku yang amburadul seperti ini. Maka aku memutuskan untuk kembali ke Maluk, tinggal bersama kedua orangtuaku dan meneruska SMA disana. Aku yakin dengan kembali ke jalan yang benar, Keysha akan tenang di sana. Dan aku yakin Keysha kini sedang tersenyum di surga.


- end -

Kisah ini kisah nyata yang gw ambil dri cerita temen kakak gw di Maluk, Sumbawa. Oh iya, nama diatas cuma nama samaran looh. Menurut gw ini cerita mengharukan banget, dramatis dan bner2 real love. It’s so hard to get girl or boy like them. Bener2 cinta sejati menurut gw. Yah semoga aja bisa jadi pelajaran buat kita kalo nyari pacar yang bener-bener syang sm kita itu susah, dan ga semua anak SMP itu cinta monyet.
So guys , see you on next story yaa ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar